6 Militer Negara ini Tidak Memiliki Pasukan Marinir, Padahal Wilayahnya dikelilingi Lautan

Inafeed.com – Seperti dikutip dari wikipedia Marinir, atau Korps Marinir adalah cabang angkatan bersenjata yang memiliki kemampuan melakukan penyerbuan secara amfibi, menggunakan infanteri, kendaraan lapis baja, pesawat udara, serta kendaraan air. Peran sebuah Korps Marinir bisa berbeda pada setiap negara. Beberapa negara, misalnya Spanyol, Jerman, Perancis, dan Rusia, menyebut satuan tempur seperti ini dengan nama “infanteri laut”.

Pasukan marinir merupakan sebuah satuan yang sangat penting untuk menguasai wilayah dari daerah pantai terutama negara ngara yang memiliki wilayah laut yang luas seperti Indonesia.

walaupun sipatnya penting ternyata ada beberapa negara di dunia yang gak memiliki pasukan marinis salah satunya 6 negara ini yang gak punya marinir walaupun wilayahnya dikelilingi laut.

Berikut 6 negara yang gak punya pasukan marinis seperti dikutip dari tribunnew.com mau tahu?

Australia

Sejak bergabung menjadi negara persemakmuran Inggris, Australia mengandalkan kekuatan Marinirnya di tangan Royal Marines.

Namun demikan bukan berarti militer Australia tidak memiliki pasukan yang berkemampuan pendarat pantai.

Sejak jaman Perang Dunia II Australian telah membentuk 66 Australia Infantry Battalion, sebuah pasukan berkemampuan pendarat pantai yang berada di bawah Angkatan Darat.

Uniknya, batalyon ini dibentuk di tanah Indonesia, tepatnya di kawasan Labuan, Kalimantan Timur.

Dalam perkembangannya, pasukan ini berubah nama menjadi 2nd Battalion Royal Australian Regiment (2 RAR).

Walau tetap berada di bawah garis komando angkatan darat, namun pola perekrutan, pembinaan, dan pelatihan batalyon ini berbeda dari induknya.

2 RAR merupakan pasukan yang siap dikirim kapanpun ke seantero dunia menggunakan Kapal Kelas Canberra (LHD Canberra Class).

Kanada

Tidak seperti Australia yang memiliki 2nd Battalion Royal Australian, Kanada sama sekali tidak memiliki korps marinir atau kesatuan khusus yang dilatih untuk memiliki kemampuan pendaratan pantai atau operasi amfibi.

Tapi bukan berarti Kanada tidak pernah melakoni operasi pendaratan pantai. Operasi Jubilee tahun 1942 di pantai Dieppe Perancis dan operasi pendaratan di pantai Omaha, Normandia merupakan sekelumit kisah sukses pendaratan pasukan Kanada di bibir pantai.

Tahun 2005 Kementerian Pertahanan Kanada sempat merombak struktur organisasi militer Kanada dan membentuk Standing Contingency Task Force (STCF).

Tugas utama STCF adalah menggelar operasi khusus dari darat, laut, udara, dan menggelar operasi amfibi, termasuk pendaratan personel lewat pantai.

Proyek STCF dilanjutkan dengan pembentukan Marine Commando Regiment tahun 2007 dengan personel sebanyak 250 orang. Resimen inilah yang ke depan digadang bakal menjadi benih dari korps Marinir Kanada.

Sayangnya, tahun 2010 pemerintah Kanada memutuskan untuk membatalkan pembentukan resimen ini, termasuk menonaktifkan STCF.

Selandia Baru

Sama seperti Kanada, Selandia Baru juga tidak memiliki satu kesatuan khusus yang setara korps Marinir. Di masa Perang Dunia II Selandia baru juga ikut melaksanakan operasi pendaratan pasukan, namun yang melakoni adalah personel Angkatan Darat.

Tahun 2012 lalu, Panglima Angkatan Bersenjata Selandia Baru dalam laporannya mengatakan bahwa ia akan membentuk sebuah tim khusus yang bisa digerakkan dalam waktu singkat. Tim yang dibentuk tahun 2015 itu diberi nama ‘Future 35‘.

Future 35 bertugas untuk melakukan operasi amfibi layaknya korps Marinir dengan fokus Operasi Militer Selain Perang (OMSP) di kawasan Pasifik. Mereka pun memiliki tugas khusus untuk menggelar operasi kemanusiaan, tanggap bencana, dan sejenisnya.

Jepang

Sejak berakhirnya Perang Dunia II Jepang tidak lagi memiliki korps marinir. Baru di tahun 2015 lalu pemerintah Jepang berencana membentuk satu unit khusus yang akan memiliki kemampuan seperti Korps Marinir AS (USMC).

Targetnya, tahun 2018 mendatang unit amfibi tersebut akan mulai beroperasi. Rencananya, satuan ini akan ditempatkan di pulau Nansei.

Keinginan Jepang membentuk satuan amfibi dengan amat cepat ini didasari ulah China yang terus memamerkan kekuatannya di sekitaran Jepang.

China sendiri saat ini disebut-sebut tengah mengincar pulau Nansei.

Bulgaria

Salah satu negara pecahan Uni Soviet ini pernah memiliki 6.000 pasukan amfibi yang tergabung ke dalam Infantri Angkatan Laut.

Namun, dalam laporan Jane’s Amphibious and Special Forces menyebutkan, saat ini Bulgaria tidak lagi meningkatkan kemampuan maupun personel di satuan pendarat tersebut.

Alasan utamanya, AL Bulgaria tidak lagi memiliki kemampuan untuk meningkatkan seluruh kapal pendarat beserta kendaraan pendukung operasi pendaratan pantai.

Oman

Kesultanan Oman dikenal sebagai negara teluk yang memiliki kekuatan laut yang amat besar. Pembangunan kekuatan dilakukan dengan modernisasi kapal-kapal perang yang ada.

Namun, sejak dekade 1990-an Angkatan Laut Kesultanan Oman hanya fokus pada pengamanan kapal-kapal barang dan minyak yang melintasi wilayah perairannya, khususnya yang ada di selat Hormuz.

Kapal pendarat (LST) Al-Munassir telah ditenggelamkan tahun 2003 lalu. Kapal bernomor lambung ‘Lima 1’ itu dijadikan karang buatan untuk tempat berkembangbiaknya terumbu dan beragam ikan karang.

iklan