Tiga Petunjuk ini yang membuat Marbot Yakin Jika Amplifier yang ada di tas Zoya adalah Milik Mushola

http://www.tribunnews.com/metropolitan/2017/08/08/3-petunjuk-ini-yakinkan-marbot-jika-amplifier-di-tas-ma-milik-musala-petunjuk-ketiga-mengejutkan

Inafeed.com – Kasus pencurian ampli di mushola dengan pelaku berinisial MA(30) sampai saat ini masih dalam tahap penyelidikan. Dari hasil penyelidikan terungkap beberapa fakta jika MA yang tewas dihakimi dan dibakar massa hidup-hidup ini memang membawa amplier dari Musala Al Hidayah, Babelan Kabupaten Bekasi, Jawa Barat, Selasa (1/8/2017).

Sebelumnya diberitakan jika amplifier yang di bawa MA itu adalah amplier miliknya selaku tukang reparasi peralatan sound system.

Namun, Rojali selaku marbot Musala Al Hidayah meyakini amplifier yang dibawa dan ditemukannya dari tas MA itu adalah milik mushola yang dijaganya.

Ada banyak fakta yang bisa dibuktikan Rojali jika dugaan amplier yang di bawa MA itu adalah amplier mushola. Pertama, terlihat dari bentuk potongan ujung kabel yang tersisa dan menempel di belakang amplifier tersebut sama dengan potongan kabel yang tertinggal di musala tempat amplifier itu berada sebelumnya.

“Kabelnya ini dalam posisi terputus. Kalau orang mau servis biasanya dibuka bautnya pakai obeng. Jadi, kabel di ampli yang putus ini dengan kabel putusannya di musala sangat sama,” ujar Rojali sembari mengangkat barang bukti amplifier dan potongan kabel yang menempel di belakangnya.

Kedua, selain kesamaan merek dan tipe, nomor seri identitas barang yang tertera di bagian belakang amplifier itu cocok dengan nomor seri di kartu garansi. Sebab, ampillifier tersebut belum lama dibelinya.

Dan ketiga, untuk membuktikan dugaannya itu benar Rojali memperlihatkan kertas garansi dengan kesamaan nomor seri yang tertera di amplifier itu. Selain itu bisa dilihat dari bercak tahi atau kotoran burung gereja yang mengering dan menempel di permukaan atas amplifier tersebut. Sebab menurut Rojali jika asal usul amplifier musala yang dijagannya ada kotoran burung gereja karena berada di pojok musala yang belum dipasang plafon.

“Di tikar-tikar di sekitarnya juga ada kotoran burung,” ucap Rojali.

“Kenapa saya bilang itu ampli saya? Karena di sini lah ada bukti (petunjuk) yang sangat kuat. Silakan dilihat ada tahi. Ini adalah tahi burung gereja,” katanya.

Rojali mengatakan amplifier tersebut sempat berada di dalam tas yang dibawa MA.

“Ketika dikejar dan belok, dia jatuh dan langsung lari. Saya cek tas yang bawaannya tadi. Saya begitu karena saya takut ampli-nya udah dijual duluan. Setelah tasnya saya buka, ternyata betul ada ampli saya,” ungkapnya.

Rojali juga mengaku jika dirinya sangat menghapal ciri khas amplifier tersebut karena ia menggunakannya setiap malam untuk acara pengajian dan tahlilan kematian neneknya sejak dua minggu lalu.

Dan pada saat itu, rencananya amplifier itu juga akan digunakan untuk acara haul wafatnya sang nenek pada malam hari kejadian.

“Kotoran burung ini belum hilang. Karena setiap malam burung buang kotoran,” katanya seraya menunjukan bercak kotoran yang menempel di permukaan atas amplifier.

Menurut Rojali, MA adalah satu-satunya orang yang memasuki area musala saat dirinya melaksanakan bersih-bersih musala setelah waktu Salat Ashar atau sekira pukul 15.30 WIB. Ia pun tidak mengenal MA sebelumnya.

Namun, ia menghapal raut wajah MA lantaran tidak ada tegur sapa, ucapkan salam maupun senyum baik saat berpapasan muka, baik pada saat masuk maupun keluar dari musala. Ia menceritakan, pada hari kejadian, ia mengumandangkan adzan Ashar di Musala Al Hidayah sekira pukul 15.20 WIB, menggunakan pengeras suara dengan amplifier musala sebagai pengatur audionya.

Setelah melaksanakan Salat Ashar berjemaah berasama putranya, Fahmi, ia melakukan bersih-bersih musala untuk persiapan haul meninggalnya sang nenek pada malam harinya. Rojali menyiram tanah yang berdebu di halaman depan dan area tempar wudhu musala.

Sembari melaksanakan kegiatan bersih-bersih, Rojali sempat dua kali melayani pembeli pulsa di warungnya yang berada sekitar 10 meter di depan musala. Baik saat menyiram halaman musala maupun melayani pembeli pulsa, Rojali tidak mengetahui aktivitas MA di dalam musala.

Sebab, kaca jendela dan pintu bagian depan musala berjenis rayben di mana hanya orang di dalam musala yang bisa melihat bagian luar musala. Selain itu, MA tidak menutup dan mengaitkan pintu depan saat meninggalkan musala.

Warga setempat biasanya menutup dan mengaitkan pintu depan musala saat meninggalkan musala karena kerap banyak binatang, seperti ayam masuk ke dalam musala.

Petunjuk Rojali lainnya, ia mengingat betul jenis sepeda motor dan barang bawaan di jok belakang motor yang dikendarai MA saat memarkirkannya di samping warung pulsa. Saat itu, Rojali tidak melihat MA menurunkan barang bawaannya dari jok motor. Dia hanya menggunakan tas punggung saat memasuki dan meninggalkan musala.

“Selain bukti lengkap, face atau wajahnya masih terngiang karena dia pergi belum satu jam dan ditambah motor Revo merah yang diparkir di samping warung pulsa. Waktu parkir, di motornya ada plastik hitam diikat pakai karet. Itu dia enggak diturunin. Dia hanya bawa tas ini aja,” kata Rojali sembari menunjukan tas punggung warna hitam milik MA, dikutip dari Tribunnews.com (9/8/2017).

Dari beberapa pengakuan dan bukti yang diungkapkan Rojali ini, Polres Metro Bekasi juga melakukan penyidikan kasus pengeroyokan dan pembakaran yang membuat MA tewas. Dan saat ini baru dua orang, SU dan NA, yang ditetapkan sebagai tersangka dan ditahan atas kasus main hakim sendiri.

Baca juga: Duh Kasihan, Pria ini dibakar massa gara gara dituduh Mencuri Ampli, Ternyata massa salah sasaran