Pria ini Ceritakan Pengalaman Gak Menyenangkan saat Makan di Restoran tol Cikapek, Harus Bayar PPN sampai 40 Persen

https://today.line.me/id/pc/article/Cerita+Herman+Kena+PPN+40+Persen+saat+Makan+di+Restoran+Tol+Cikampek-KOQyPm?utm_source=facebook&utm_medium=linetodayhome&utm_campaign=home_aLebih

Inafeed.com – Seorang pria bernama Herman Ligasetiawan membagikan cerita apesnya setelah makan di Tol Cikampek KM 19. Ketika itu, Herman mengaku mengalami kejadian tidak mengenakan saat makan di restoran rest area Tol Cikampek tersebut dimana dirinya harus membayar Pajak Pertambahan Nilai (PPN) sebesar 40%.

Dalam group Wa yang dimilikinya, Herman mengunggah bon makannya.Total pesanan Herman awalnya berjumlah Rp 246.400, terdiri dari total makanan Rp 176.000 dan PPN 10% Rp 70.400. Harga tersebut dipotong Rp 33 ribu dari kelebihan nasi ayam, sehingga total yang harus dibayar Herman menjadi Rp 213.400.

pajak makan (gambar:source)

Herman mengatakan peristiwa itu terjadi pada Senin (31/7) lalu saat dia dan keluarganya ke Bandung. Herman mampir ke rest area KM 19 Tol Cikampek untuk makan siang. Usai makan Herman datang ke kasir dan melakukan pembayaran.

“Saya cek item, ternyata ada yang kelebihan itu nasi ayam Rp 33 ribu itu. Harusnya nasinya cuma satu, tapi ditulis dua kali. Saya bilang ini salah, saya coret itu dan dikembalikan Rp 33 ribu,” kata Herman.

“Dalam perjalanan saya mikir kok makan bertiga mahal sekali. Saya cek lagi bonnya, saya periksa wah ternyata ‘digorok’ di PPNnya 40%, harusnya kan 10% ini penipuan kan namanya,” ucap Herman.

Awalnya Herman tidak sadar soal PPN 40% ini karena dalam bon dituliskan PPN 10%. Selain itu sistem pembayaran juga sudah menggunakan cash register sehingga dia menganggap penghitungannya tidak akan salah.

“Karena pake mesin hitung cash register, termasuk pajaknya harusnya sudah akurat kan penghitungannya,” ucapnya.

Dan merasa sedikit dirugukan , Herman lalu memotret bon makanan itu dan menyebarkannya di grup. Postingannya itu menjadi perhatian natizen, bahkan teman-teman Herman menyarankan agar dia menuntut warung makan tersebut atau melapor ke Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI).

Namun Herman memilih untuk mendatangi warung makan itu lebih dulu untuk meminta penjelasan.
“Hari Minggu nanti saya mau ke Bandung lagi, nanti saya mau mampir ke sana lihat respons restorannya gimana,” kata Herman, seperti yang dikutip dari today.line.me (8/11/2017).

iklan