Kenapa Banyak Yang Mati Setelah digigit Ular, Ternyata Ini Kesalahan Penanganannya

http://style.tribunnews.com/2017/09/11/banyak-orang-meninggal-setelah-digigit-ular-rupanya-ini-kesalahan-penanganannya?page=all

Inafeed.com – Ular dianggap sebagai salah satu hewan paling berbahaya bahkan bisa mengancam nyawa manusia.

Dan tahukah kamu kenapa banyak orang yang mati setelah di gigit ular ? Sebagian orang beranggapan proses kematian itu karena bisa ular telah menyebar ke seluruh tubuh dan tidak mendapatkan penanganan cepat.

Pakar toksikologi dan bisa ular DR. dr. Tri Maharani, M.Si SP.EM mengatakan, ada pemahaman masyarakat soal penanganan pertama ketika mengalami gigitan ular yang salah besar.

Tindakan pertama dilakukan dengan mengikat daerah disekitar area gigitan ular. Tujuannya adalah untuk menghentikan pergerakan bisa ular agar tak menyebar ke seluruh tubuh.

Selain itu,  tindakan cepat jika kamu digigit ular yakni bisa dengan membuat sayatan di dearah gigitan untuk mengeluarkan darah demi menghindari penyebaran bisa ular.

Menurut Tri, kedua tindakan tersebut salah besar, tidak membantu sama sekali. Bisa ular akan tetap menyebar ke bagian tubuh lainnya.

“Kalau diikat hanya membuat kondisi seolah-olah bisa ular berhenti. Padahal yang diikat adalah pembuluh darah. Akibatnya pembekuan darah hingga amputasi,” kata Tri seperti yang dilansir dari Tribunnews.com (12/9).

Tri menjelaskan, cara penanganan yang tepat adalah dengan membuat bagian tubuh yang terkena gigitan tak bergerak. Caranya sebenarnya tak sulit. Anggota tubuh dihimpit dengan kayu, bambu, atau kardus layaknya orang patah tulang.

“Betul-betul tidak bergerak sehingga bisa ular hanya ada di tempat gigitan, tidak menyebar ke seluruh tubuh,” kata Tri.

Dan kini ada sebuah kabar jika seorang pasien bernama Ananda Yue Riastanto (8) merasakan kesalahan dalam penanganan medis setelah dirinya dinyatakan digigit ular weling (Bungarus candidus) pada 5 Januari 2017 lalu.

Anak asal Peduhukan Dhisil, Desa Salamrejo, Kecamatan Sentolo, Kabupaten Kulon Progo, Daerah Khusus Yogyakarta itu diberikan pertolongan pertama dengan mengikat bagian yang tergigit.

Beruntung, dengan jenis bisa neurotoksin, Ananda masih selamat dari kematian meskipun mengalami enselofati yang berakibat pada kelumpuhan dan ketidakmampuan bicara.

“Neurotoksin memang berakibat lebih fatal karena bisa menimbulkan kelumpuhan otot pernafasan yang berakibat kematian. Kalau hemotoksin kan racunnya menyerang, membuat pendarahan, jadi matinya itu lama. Kalau neurotoksin matinya cepat,” ucap Tri.

Dengan adanya kasus ini, Tri menuturkan saat seseorang dengan luka gigitan ular, tenaga medis harus dapat mengatur jalannya pernafasan.

Lihat juga: Ular Ular ini Mati Gara Gara Salah Makan, Ngeri Banget Lihat Isi Perutnya

iklan