Kisah Pemuda Dibalik Senjata Berat di Petempuran Surabaya, Siapakah Sosok Pria Tersebut?

Inafeed.com – Pertempuran Surabaya sampai saat ini masih memiliki sejumlah rahasia terutama peran pemuda dibalik senjata berat itu.

Berdasarkan pengakuan dari Kolonel (Purn) Moekajat mengaku jika dirinya tak pernah melupakan kejadian di hari kedua Pertempuran Surabaya. Suasana di garis depan mendadak heboh. Sejumlah mantan anggota PETA (Pembela Tanah Air) dan KNIL (Tentara Kerajaan Hindia Belanda) yang melayani senjata penangkis serangan udara, Bofors 40, menembak jatuh tiga pesawat Mosquito milik RAF (Angkatan Udara Inggris).

“Termasuk satu pesawat yang berisi seorang jenderal Inggris yang ikut mati di dalamnya,” ujar mantan anggota BPRI (Barisan Pemberontak Rakyat Indonesia) itu.

Baca juga : 10 Perang Paling Berdarah di Dunia Banyak Memakan Korban Jiwa

Akan tetapi , walaupun ada pengakuan seperti itu tetap saja pihak Inggris menampik jika kematian itu disebabkan tembakan pihak Indonesia.

“Mereka menyebut Brigjen Robert Guy Loder Symonds tewas akibat pesawatnya mengalami kecelakaan di Lapangan Morokembangan,” kata sejarawan Batara Hutagalung, penulis 10 November 45: Mengapa Inggris Membom Surabaya?

Dan untuk peran para pemuda di balik senjata-senjata berat dalam Pertempuran Surabaya , ada tanda tanya besar tentang siapakah sosok pemuda di pertempuran Surabaya itu ?

Moehkardi dalam Akademi Militer Yogya mengatakan jika ketika itu dirinya hanya melihat sebuah kapal yang masih merapat di pelabuhan.

“Saat dicek ke lapangan langsung oleh Mayjen Suwardi esok harinya, dia melihat sebuah kapal yang masih merapat di pelabuhan nampak terbakar dan asapnya yang tebal membumbung ke udara,” tulis Moehkardi dalam Akademi Militer Yogya dalam Perjuangan Pisik 1945-1949.

Sementara dilihat dari grup pelayan senjata berat lainnya yang dinilai cukup merepotkan pertahanan Inggris adalah kompi bantuan mortir dari Resimen Sidoarjo. Mereka terdiri dari anggota-anggota eks cudanco (komandan kompi) dan budanco (komandan regu) yang pernah mendapat latihan menggunakan mortir dari Kaigun (Angkatan Laut Jepang).

“Posisi mereka ada di belakang Pasar Wonokromo, di bawah pimpinan Kapten Suwarso,” tulis Nugroho Notosusanto dalam Pertempuran Surabaya.

Di samping kedua grup itu, ada pula batalion artileri pimpinan Minggu dari Resimen TKR Gajah Mada. Batalion ini memiliki 28 pucuk meriam penangkis serangan udara dalam berbagai kaliber, yang ditempatkan di Karangpilang, Gresik dan sebelah selatan Kali Brantas.

Tak luput dari itu, dalam pertempuran Surabaya sejatinya mayoritas awak penembak senjata berat kurang berpengalaman. Namun, situasi perjuangan menuntut mereka untuk mengendalikannya. Karena kurang pengalaman ini, tak jarang peluru meriam nyasar ke kubu kawan sendiri.

Lewat radio, Bung Tomo segera memberitahu kepada grup senjata berat tersebut untuk menghentikan tembakan. Celakanya, sambil berseru, Bung Tomo menyebut posisi grup senjata berat tersebut. Akibatnya fatal: grup itu malah dihujani serangan udara Inggris.

Dan ternyata sosok pria dalam pertempuran Surabaya itu adalah sosok pria bernama Idris. Rahasia ini diungkapkan langsung oleh Nugroho.

“Seseorang bernama Isa Idris kemudian dengan cepat bergerak ke tempat Bung Tomo melakukan pidato siaran langsung dan mengingatkan keteledorannya itu,” tulis Nugroho, seperti yang dilansir dari viva.co.id (5/12).