Mengingat Pertempuran Antara RPKAd Dengan Gurkha

Menurut John S. Advirson, kesatuan Gurkha ditempatkan di sejumlah pos dalam ukuran kompi. Legiun asing milik Inggris ini telah mendarat di Brunei sejak 1962, dan membangun markas besar mereka di sana.

iklan

Keterlibatan pasukan Gurkha ini juga diperkuat pernyataan Kifaru, seorang pensiunan tentara Inggris-Gurkha dengan pangkat terakhir perwira. Kepada Majalah Tempo, Kifaru berkisah:

Konon keadaan “sangat mengkhawatirkan” tatkala rombongan pertama Divisi ke-17 ini tiba di Brunei. Para perusuh telah berhasil menguasai sebuah lapangan terbang dan beberapa pos polisi. Mereka juga memblokade beberapa daerah. “Tetapi peta situasi segera berubah dengan masuknya pasukan Inggris,” tulis Kifaru. Para Prajurit Gurkha yang beringas itu langsung terjun ke tengah-tengah musuh. Mereka segera menguasai keadaan. Pasukan Inggris kemudian berbalik mengambil alih inisiatif memburu para pemberontak. Dan pada akhir 1962, Brunei dinyatakan dalam keadaan aman.

Selain itu menurut Kifaru, ketika terjadi revolusi di Brunei pada akhir tahun 1962, dilaporkan bahwa gerakan tersebut didorong oleh agen-agen komunis dengan dukungan pemerintahan Soekarno. Tujuannya adalah menangkap sultan, menduduki semua pos polisi dan menguasai ladang minyak di Negara tersebut.

Kendati sempat menguasai pos-pos polisi, revolusi yang digerakkan para pemberontak urung menemui keberhasilan. Gerakan-gerakan mereka sempat tercium sebelumnya dan pasukan-pasukan keamanan pemerintah segera memberikan perlawanan. Lanjut Baca ke Halaman Berikutnya.

iklan
iklan